Inilah 5 Pemenang Kontes Foto Toba Nauli 2017

0
81

Toba Nauli Photo Contest and Exhibition 2017 (TNP17) telah melalui proses kontes dan kurasi yang panjang. Akhirnya ketiga kurator Nicolas Marino, Aryono Huboyo Djati, dan Ricky Siegers berhasil memilih 75 karya foto terbaik dan 5 pemenang kontes foto. Bertempat di Museum Mandiri, 80 karya foto ini akan dipamerkan selama 27 Juli hingga 30 Juli 2017. Namun, siapakah pemenang-pemenang kontes foto ini? Karya foto apa yang berhasil mereka potret hingga berhasil memenangkan kontes?

 

Ares Jonekson Saragi (Medan)

Karya: Panen Padi

DSC_0824-2

Seorang lulusan Teknik Elektronika Industri dari Universitas Politeknik Negeri Medan. Sudah mengenal dan mencintai fotografi sejak tahun 2005 dan kini telah menjadi karir professional baginya. Di awal karirnya ia belajar memotret landscape, culture, human interest di Danau Toba karena dekat dengan domisilinya di Medan dan merupakan kampong halaman nenek moyang. Beberapa karyanya khususnya foto Danau Toba pernah ditampilkan di media dan memenangkan lomba tingkat nasional maupun internasional. Karya Panen Padi ini diambil ketika sedang musim panen padi di daerah persawahan Nainggolan, Samosir, Danau Toba. Seorang ibu petani terlihat dari jalan raya sedang serius memasukkan hasil panen padi ke dalam karung. Pemandangan sore itu begitu menarik perhatian sehingga ia mendekat dan menyapa. Ia berhasil menangkap dan menunjukkan bagaimana kerja keras seorang ibu petani di Samosir berjuang untuk keluarga dan masyarakat.

 

Andru Kosti (Medan)

Karya: Cucian Pagi

Cucian-Pagi_Andru-Kosti_085270861172

Memulai hobi fotografi sejak SMA dengan kamera pocket Kodak LS 743 dan mulai serius memotret sejak kuliah. Selepas kuliah, Andru Kosti bekerja sebagai staf keuangan di beberapa perusahaan hingga akhirnya memutuskan menjalani fotografi sebagai profesi sejak 2014. Beberapa kali memenangkan penghargaan dalam fotografi dan pencapaian tertinggi  adalah memenangkan Garuda Indonesia World Photo Contest 2014 kategori best nature. Saat ini karya komersialnya fokus pada bidang hospitality, interior serta food. Karyanya Cucian Pagi menunjukkan sejumlah wanita desa Lumban Hariara, Samosir sedang melakukan rutinitas pagi seperti mencuci pakaian dan peralatan dapur. Kebersihan dan jaminan air yang bebas dari pencemaran sangat penting bagi masyarakat di tepian danau Toba mengingat banyak warga yang menggantungkan kebutuhan air sehari harinya langsung dari Danau Toba.

 

Asmon Pardede (Toba Samosir)

Karya: Tradisi Pemindahan Tulang Belulang Leluhur

TOBA-NAULI-DSC_0100

Asmon Pardede sehari-hari berprofesi sebagai petani. Namun ia memiliki hobi fotografi dan terdaftar sebagai anggota Toba Photographer Club (TPC) serta anggota Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI Pengda Sumatera Utara. Karyanya Tradisi Pemindahan Tulang Belulang Leluhur merupakan sebuah tradisi Batak yang masih terus ada hingga sekarang. Potret ini ia abadikan di Sosor Ambar, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjuli, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Ketika itu ia tengah menghadiri pesta adat Batak, mengingkal Holi. Beberapa orang menjunjung tulang belulang salah satunya adalah sanak saudara kelaurag Asmon Pardede. Kegiatan Manggali tuang belulang leluhur ini jarang sekali mendaptkan tulang belulang secara utuh. Terlebih jika leluhu telah meninggal puluhan bahkan ratusan tahun.

 

Angelus Agustinus (Jakarta)

Karya: Panatapan Tele Tempat Memandang dari Kejauhan

IMG_8409_Indahnya-Pagi-dari-Panatapan-Tele

Fotografer professional yang berdomisili di Jakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai fotografer, ia selalu menyempatkan diri untuk hunting foto di lokasi pekerjaan yang sedang ia lakukan. Karyanya Panatapan Tele Tempat Memandang dari Kejauhan menunjukkan betapa indah dan uniknya Danau Toba dikelilingi perbukitan atau gunung-gunung yang menjulang tinggi seakan-akan memiliki dua buah danau yang bertingkat. Ia berharap orang tak menyangka bahwa karyanya ini dipotret dari Panatapan Tele.Danau Toba memang sangat unik dan bisa disandingkan dengan tempat wisata yang ada di Indonesia bahkan Negara lain.

 

Zulfikri Sasma (Padang)

Karya: Membuat Ulos.

DSC_4739-Edit-copy

Pria kelahiran Padang ini mencintai fotografi sejak duduk di bangku kuliah. Rasa cinta itu pula yang menjadikan fotografi sebagai hobi sekaligus profesi. Tahun 2009, bersama teman-teman fotografer Sumatra Barat mendirikan komunitas fotografi The Patiaker’s yang salah satu tujuannya adalah mempromosikan wisata dan budaya Indonesia khususnya Sumatra Barat lewat karya fotografi. Saat ini lebih banyak konsen ke bidang fotografi fashion dan telah banyak dimuat di halaman fashion koran dan majalah lokal dan nasional. Kini ia menjadi pimpinan Raja Studio Photography. Karyanya Membuat Ulos ia potret di desa Lumban Suhi-suhi, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan. Ulos yang dihasilkan dari desa ini dikerjakan sendiri oleh warga setempat, baik dengan tangan maupun alat tenun. Di desa ini banyak dijumpai gadis dan ibu-ibu setempat menenun ulos di dalam atau luar rumahnya sendiri. Seperti tampak pada foto, seorang ibu tengah membuat ulos dengan menggunakan alat tenun tradisional di dalam rumahnya sendiri. Pengerjaan kain tenun ulos ini memakan waktu antara 1-4 minggu, tergantung jenis kain dan kerumitan. Pengerjaan ini jugalah yang nantinya akan menentukan harga Ulos.